Fenomena Ternak Mulyono di Grup Alumni: Membaca Dinamika Loyalitas Buta

Oleh: Idham Rizal – PPWI RIAU- starbpknews.id Dalam setiap ruang percakapan, baik di dunia nyata maupun ruang maya seperti grup WhatsApp, selalu muncul sosok yang menonjol. Sosok itu bukan karena keluasan ilmunya, bukan pula karena kelapangan hatinya, melainkan lebih karena sikapnya yang berlebihan dalam membela seseorang atau suatu kelompok. Di grup alumni Kilap Sumagan, fenomena ini hadir dalam figur berinisial “A”. Sosok ini bak “ternak Mulyono” yang rela mati-matian pasang badan, membela junjungan politiknya, meskipun argumentasi yang ia usung sering kali mengabaikan nalar sehat, etika, bahkan adab dalam bertutur kata.

Fenomena ini menarik untuk diurai, sebab bukan hanya terjadi di satu grup alumni semata. Ia adalah cermin dari wajah sosial kita hari ini: masyarakat yang terbelah oleh fanatisme politik, yang tak jarang berubah menjadi buta dan tuli terhadap kebenaran.

Loyalitas yang Menyilaukan Akal Sehat

Sosok “A” dengan mudah marah jika ada rekan di grup yang melontarkan kritik terhadap pemerintahan. Kritik yang diarahkan pada era kepemimpinan Jokowi—yang oleh banyak pihak dinilai sarat dengan problematika tata kelola negara, konflik kepentingan keluarga, hingga kerusakan aturan—langsung disambut dengan serangan balik.

Bukannya menyodorkan data tandingan atau argumentasi yang rasional, justru ia lebih sering menggunakan bahasa emosional, sarkastis, bahkan tidak etis. Kata-kata kasar meluncur begitu saja tanpa mempertimbangkan bahwa di grup tersebut hadir pula para senior, bahkan banyak yang telah purna tugas.

Di titik inilah loyalitas berubah menjadi ironi. Sebab, ketika seseorang membela junjungannya dengan membabi buta, ia kehilangan kejernihan untuk membedakan mana kritik yang konstruktif, mana pula yang sekadar fitnah. Akibatnya, ruang diskusi yang seharusnya sehat, malah berubah menjadi ajang saling serang.

Mengapa Ada “Ternak Politik”?

Fenomena “ternak politik” seperti yang ditunjukkan si A bukanlah hal baru. Istilah ini muncul untuk menggambarkan orang-orang yang digiring pada sikap fanatik tanpa daya kritis, layaknya ternak yang hanya mengikuti arah gembala. Ada beberapa faktor mengapa sikap ini tumbuh subur:

1. Keterikatan emosional
Dukungan yang berlebihan sering kali muncul karena adanya keterikatan emosional, bukan rasionalitas. Misalnya, merasa dekat dengan sosok pemimpin karena narasi kesederhanaan atau karena dianggap mewakili “orang kecil”.

2. Polarisasi politik yang tajam
Sejak Pilpres 2014 hingga 2019, bangsa ini telah terbelah dalam dua kutub besar. Polarisasi itu tak pernah sembuh, malah diwariskan hingga hari ini. Loyalis akan terus membela junjungannya meski fakta di lapangan menunjukkan kekecewaan publik.

3. Minimnya literasi politik
Banyak orang memahami politik hanya sebatas “siapa lawan siapa”, bukan soal kebijakan publik. Akibatnya, kritik dianggap serangan pribadi, bukan upaya memperbaiki tata kelola negara.

4. Kepentingan pribadi atau kelompok
Tak jarang, fanatisme juga lahir dari kepentingan: berharap proyek, posisi, atau sekadar kedekatan simbolik dengan kekuasaan.

Kritik Bukanlah Kebencian

Hal yang sering disalahpahami oleh para “ternak politik” adalah memandang kritik sebagai kebencian. Padahal, dalam tradisi demokrasi, kritik justru merupakan vitamin untuk kekuasaan.

Jika ada alumni yang mengkritik pemerintahan Jokowi terkait kebijakan ekonomi yang timpang, utang negara yang menggunung, atau praktik politik dinasti, itu bukan berarti ia benci. Itu adalah bagian dari kontrol sosial yang seharusnya dihargai.

Sayangnya, si A justru menutup mata. Baginya, segala sesuatu yang dilakukan junjungannya dianggap halal, meski melanggar aturan. Ia menolak fakta, ia menolak diskusi sehat, dan lebih memilih jalur emosional.

Etika di Ruang Alumni

Yang membuat fenomena ini semakin memprihatinkan adalah karena hal itu terjadi di grup alumni—sebuah ruang yang semestinya menjadi wadah silaturahmi, saling berbagi kabar, dan mempererat persaudaraan. Apalagi, banyak di antara anggota grup adalah sosok-sosok senior yang sudah selesai dengan hiruk-pikuk kepentingan duniawi.

Namun, kehadiran si A dengan gaya bicaranya yang kasar justru menodai ruang tersebut. Alih-alih membawa kesejukan, ia menghadirkan ketegangan. Alih-alih mempererat, ia malah memperlebar jurang perbedaan.

Etika dalam berkomunikasi adalah cermin kepribadian. Orang boleh berbeda pilihan politik, tetapi jangan sampai kehilangan adab. Kritik boleh tajam, tetapi bahasa harus tetap santun. Inilah yang gagal dipahami oleh “ternak Mulyono” di grup alumni itu.

Belajar dari Para Senior

Menariknya, para senior di grup tampak lebih tenang. Meski berbeda pandangan, mereka memilih menjaga sikap, memahami bahwa usia dan pengalaman telah mengajarkan pentingnya kebijaksanaan. Inilah seharusnya menjadi teladan.

Namun, justru yang lebih muda atau lebih fanatik kerap melupakan adab tersebut. Mereka berteriak paling keras, seolah kebenaran mutlak berada di pihaknya. Padahal, keberanian menjaga etika justru jauh lebih mulia daripada keberanian berteriak tanpa kendali.

Bahaya Loyalitas Buta

Fenomena si A harus menjadi cermin bagi kita semua. Loyalitas buta sangat berbahaya, karena ia bisa membuat seseorang melanggar prinsip dan aturan yang dulu mungkin sangat ia junjung tinggi.

Loyalitas buta bisa membuat orang rela menghalalkan segala cara demi melindungi pemimpinnya. Bahkan, bisa membuatnya tega memutus tali persaudaraan hanya karena berbeda pandangan politik.

Pada akhirnya, yang dirugikan bukan hanya dirinya, tetapi juga keharmonisan sosial. Ruang-ruang pertemanan yang mestinya membawa kebahagiaan, berubah menjadi arena pertengkaran.

Menutup dengan Renungan

Fenomena “ternak Mulyono” di grup alumni Kilap Sumagan bukanlah kasus kecil. Ia adalah representasi dari penyakit sosial yang lebih besar: fanatisme politik yang membutakan akal sehat, menghilangkan adab, dan merusak harmoni.

Kita boleh berbeda pilihan, boleh mengkritik atau membela, tetapi jangan pernah melupakan bahwa adab lebih tinggi daripada sekadar kepentingan politik sesaat.

Kita semua perlu belajar bahwa dalam demokrasi, kritik bukanlah dosa. Kritik adalah wujud cinta pada negeri, cinta pada kebenaran, dan cinta pada masa depan yang lebih baik.

Maka, kepada sosok berinisial A—dan semua yang serupa dengannya—mari berhenti sejenak, membuka mata, membuka telinga, dan membuka hati. Jangan biarkan diri kita menjadi ternak yang hanya tahu mengikuti gembala, tanpa mampu berpikir, tanpa mampu bersuara jujur, dan tanpa mampu menjaga etika.

Sebab, pada akhirnya, yang akan diingat orang bukanlah seberapa keras kita membela, melainkan seberapa bijak kita menjaga adab. ( IR )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *