Sulut, Starbpknews.id- Demo sopir truk di Manado menuntut penertiban praktik “tab” BBM dan penindakan mafia, tapi malah menuai kecurigaan. Aktivis Aldi menduga aksi itu dikendalikan mafia pasir ilegal sebagai kepentingan pribadi, bukan untuk rakyat.
Para sopir mengeluh soal pengisian BBM berulang di SPBU yang merugikan masyarakat, tapi Aldi bilang banyak sopir itu digaji mafia pasir, sehingga demo cuma kamuflase. Ia menegaskan pemerintah harus tegas agar demo tak jadi alat melanggengkan ilegalitas.
Aldi menuding oknum seperti Buang Ngantung hadir dalam demo, yang jelas-jelas demi melindungi bisnis pasir ilegal mereka. Pernyataan ini diperkuat sopir lain, Sandi, yang merasa demo cuma jadi panggung kepentingan pribadi.
Sandi bilang, “Saya tidak pernah kesulitan dapat BBM subsidi, ini soal sebagian sopir yang mau cari untung ekstra.” Ini menguatkan dugaan demo bukan demi masyarakat, tapi sekelompok mafia.
Sindiran Aldi “maling teriak maling” menyindir para mafia pasir yang pura-pura jadi korban. Dia menekankan betapa pentingnya aparat jeli membedakan mana aspirasi murni dan mana kepentingan gelap.
Demo yang semestinya fokus bersihkan mafia BBM, malah terkesan jadi ajang pertarungan kepentingan para mafia pasir. Warga diminta waspada agar tak mudah terprovokasi oleh tuntutan sepihak.
Pemerintah dan Polri pun diharapkan tak lengah, melakukan penyelidikan lebih dalam agar penindakan tepat sasaran. Jangan sampai upaya pemberantasan mafia supplier BBM terhambat oleh permainan kotor kelompok ilegal lain.
Kondisi ini jadi pengingat bahwa aksi massa bisa dimanipulasi untuk kepentingan politis dan ekonomi tertentu, bukan demi kepentingan rakyat. Transparansi dan penegakan hukum menjadi kunci supaya permasalahan tuntas.
Aksi sopir truk yang sempat didukung masyarakat ini kini dipenuhi kecurigaan, mengancam kredibilitas gerakan anti mafia BBM di Sulut. Publik berharap aparat dapat menunjukkan profesionalisme tinggi. (Tim Investigasi)


