Oleh: Iswan Ahmad
Jurnalis Media Online
BERITASTSRBPKNEWS.ID
Maluku Utara – Di negeri yang tanahnya dikenal kaya akan sumber daya alam, tak banyak yang benar-benar paham betapa berbahayanya menggali isi bumi. Terutama saat kita bicara soal tambang emas. Ini bukan sekadar urusan alat berat dan batuan mengkilap. Ini adalah permainan mahal dan brutal, di mana setiap langkah adalah taruhan dan seringkali, taruhannya adalah kerugian.
Pertambangan emas tidak seperti komoditas lain. Nikel dan batu bara mungkin bisa ditemukan dengan metode eksplorasi yang lebih mudah diprediksi. Tapi emas? Ia bersembunyi dalam saku-saku kecil, tersebar secara sporadis, dan sangat sulit ditebak. Bahkan setelah ratusan meter pengeboran, hasilnya bisa saja nihil. Tapi biaya operasional? Tetap berjalan. Tetap tinggi. Tetap harus dibayar.
Lalu muncullah PT. Nusa Halmahera Minerals (NHM), salah satu dari sedikit entitas yang berani mengambil risiko itu di Halmahera Utara. Mereka masuk dengan modal besar, teknologi, dan tekad. Tapi sayangnya, banyak yang hanya melihat hasil akhir. Banyak yang tak tahu bahwa ini bukan ladang emas, tapi ladang risiko.
Kondisi PT. NHM saat ini memang sedang tidak mudah. Sebagian karyawan dirumahkan. Produksi tak stabil. Biaya terus membengkak. Dan yang paling menyakitkan kecurigaan serta ketidakpercayaan mulai bermunculan dari masyarakat dan karyawan sendiri. Padahal mereka pun sejatinya adalah bagian dari pertaruhan ini.
Apakah NHM sempurna? Tentu tidak. Tapi apakah mereka berjuang? Tanpa ragu, ya. Haji Robert, sang pemilik, bukan orang biasa. Ia bukan hanya seorang pemodal, tapi juga figur yang punya misi sosial. Di saat banyak investor lokal memilih menjauh dari industri tambang karena risikonya yang mengerikan, ia justru melangkah maju.
Kita lupa bahwa tidak ada tambang besar di Indonesia yang berdiri murni atas uang orang Indonesia. Kita tidak punya cukup “orang gila” yang bersedia bakar ratusan miliar rupiah hanya demi mengejar harapan di bawah tanah. Tapi NHM melakukannya. Dan kini, ketika badai datang, mereka layak mendapat lebih dari sekadar kritik.
Inilah saatnya solidaritas diuji. Karyawan dan masyarakat lokal bukan hanya korban dari situasi ini. Mereka juga bisa menjadi bagian dari solusinya. Dengan memberi waktu, ruang, dan dukungan moral, mereka ikut memperkuat fondasi agar NHM bisa bertahan dan bangkit. Karena jika tambang ini tutup, yang kehilangan bukan hanya para pemilik modal, tapi juga ribuan kepala keluarga, roda ekonomi lokal, dan masa depan Halmahera Utara itu sendiri.
Jangan buru-buru menyalahkan kapal yang sedang oleng. Duduklah bersama nakhoda. Karena hanya dengan cara itu, badai bisa dilalui dan kita semua bisa sampai ke pelabuhan yang sama.
(Sulfi TIM RED/starbpknews.id)




