Sri Mulyani di beri gelar “Drakula pajak” kritik tajam kebijakan Fiskal pemerintah

 

julukan “starbpknews.id.Drakula Pajak” yang kini melekat pada Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bukanlah fitnah, melainkan refleksi keresahan rakyat. Julukan itu lahir dari pengalaman nyata: rakyat diperas, dipajaki dari segala sisi, sementara negara seolah lupa pada kewajiban dasarnya—mensejahterakan.

Hari ini, pajak telah menjelma bukan lagi sebagai instrumen keadilan sosial, melainkan alat hisap paling rakus. Tak ada celah yang luput dari genggaman: belanja digital, hiburan rakyat, bahkan kebutuhan sehari-hari—semua ditandai dengan beban pajak. Rakyat kecil dicekik dengan aturan dan sanksi, sementara konglomerat besar dan pejabat nakal kerap melenggang bebas dari jerat hukum pajak.

Sri Mulyani selalu membela diri dengan jargon klise: “Pajak adalah tulang punggung negara.” Tetapi kami melihat, jargon itu hanya kedok untuk menutupi wajah lain negara—wajah yang menghisap keringat rakyat demi menambal lubang utang dan pemborosan belanja negara. Apakah rakyat harus selalu jadi korban?

Julukan “Drakula Pajak” lahir dari kenyataan pahit itu. Sebab negara bukan sekadar memungut, melainkan sudah rakus. Tidak ada lagi rasa empati, tidak ada lagi keberpihakan. Pajak hanya tajam ke bawah, tumpul ke atas. UMKM ditindih, masyarakat kecil dipaksa taat, sementara permainan pajak kelas kakap bernilai triliunan ditutup rapat dengan istilah “rekonsiliasi.”

Kami bertanya: untuk apa pajak yang begitu besar? Apakah rakyat sudah merasakan kesejahteraannya? Jalan masih berlubang, kesehatan masih mahal, pendidikan masih diskriminatif, sementara pejabat menikmati fasilitas mewah dari hasil pajak itu. Maka rakyat pantas bertanya: untuk siapa pajak dipungut—untuk rakyat, atau untuk kekuasaan?

Sri Mulyani boleh terus dipuji dunia internasional, disebut teknokrat hebat, bahkan dielu-elukan sebagai sosok yang menjaga fiskal. Tetapi bagi rakyat, wajah yang tampak adalah wajah “Drakula Pajak”—sosok yang hadir bukan membawa keadilan, melainkan menambah luka dan beban.

Kami meyakini, jika kebijakan fiskal terus berjalan seperti ini, jurang antara negara dan rakyat akan semakin lebar. Sebab rakyat yang terus dihisap tanpa merasakan manfaat, pada akhirnya akan kehilangan kepercayaan pada negara itu sendiri.

Dan pada hari itu, sejarah tidak akan mengenang Sri Mulyani sebagai pahlawan fiskal, melainkan sebagai Drakula Pajak yang menghisap darah rakyat di era penuh krisis.

(Idham rizal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *