Oleh: Idham Rizal- starbpknews.id.
Tembilahan 16 juli 2025
Rakyat miskin bukan karena malas. Rakyat miskin bukan karena bodoh. Rakyat miskin karena kekayaan negeri ini tidak pernah sampai ke tangan mereka. Setiap rupiah yang seharusnya membiayai pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan kesejahteraan rakyat, justru disedot habis oleh para pejabat serakah yang menjadikan jabatan sebagai ladang dagang.
Korupsi sudah menjadi darah dalam nadi birokrasi. Dari kepala desa hingga pejabat kementerian, dari proyek pembangunan jalan hingga pengadaan alat Kesehatan—semuanya jadi bancakan. Tak ada lagi rasa malu, apalagi takut. Mereka mencuri dengan percaya diri, seakan yakin bahwa hukum bisa dibeli, dan rakyat akan tetap diam.
Setiap tahun, negeri ini kehilangan ratusan triliun rupiah akibat korupsi. Uang sebesar itu cukup untuk membangun ribuan sekolah, rumah sakit, jalan di pelosok, hingga membiayai subsidi pertanian dan perikanan untuk rakyat kecil. Tapi yang terjadi justru sebaliknya: rakyat harus berdesakan mengantre bantuan, siswa belajar tanpa fasilitas memadai, petani merugi, nelayan tercekik harga solar, sementara para pejabat menikmati hidup mewah dari hasil rampasan uang negara.
Lebih menyakitkan lagi adalah ketika lembaga penegak hukum yang diharapkan menjadi harapan terakhir, justru ikut bermain dalam lingkaran setan ini. Aparat penegak hukum seolah hanya berani menangkap maling kelas teri. Sementara “hiu-hiu besar” dibiarkan berenang bebas, bahkan seringkali dilindungi oleh sistem yang korup.
Lembaga hukum hari ini kehilangan wibawa. Penyidikan dipetieskan, dakwaan dikaburkan, vonis dikorting. Seolah-olah hukum hanya dipakai untuk menakut-nakuti lawan politik, bukan untuk menegakkan keadilan. Banyak pejabat yang setelah ditangkap, justru bebas sebelum masa tahanan habis. Mereka keluar dari penjara seperti pahlawan, bahkan disambut oleh para pendukung dan siap kembali mencalonkan diri. Inilah wajah hukum kita hari ini: membusuk dari dalam.
Sementara itu, rakyat kecil yang mencoba bertahan hidup justru diburu dan ditekan. Pedagang kaki lima digusur, buruh dibayar murah, petani dipersulit pupuk, nelayan dibatasi wilayah tangkap. Semua seakan dikerangkeng oleh aturan yang dibuat bukan untuk rakyat, tetapi untuk memuluskan kepentingan investor dan penguasa.
Negeri ini tak kekurangan sumber daya. Yang kurang adalah moral. Kita tak kekurangan ahli. Yang kita kekurangan adalah integritas. Dan selama pejabat yang korup masih diberi panggung, selama penegak hukum masih bisa ditelepon oleh penguasa, maka jangan harap kemiskinan akan berakhir.
Kemiskinan rakyat hari ini bukan kebetulan. Ini adalah kejahatan yang terorganisir dan dibiarkan. Kemiskinan adalah akibat langsung dari sistem pemerintahan yang sudah dibajak oleh para elit tamak dan aparat yang tak lagi punya nurani.
Rakyat harus sadar. Perubahan tidak akan datang dari atas. Perubahan harus dipaksa dari bawah. Dan jika suara rakyat terus dibungkam, maka ketidakadilan ini akan menjadi bara dalam sekam. Karena sejarah sudah membuktikan, di saat rakyat lapar dan keadilan mati, maka revolusi hanya tinggal soal waktu.




