Perang Melawan Nafsu: Ketika Akal Dikalahkan oleh Kepentingan Renda

Berita – starbpknewe.id.

RIAU 15 september 2025
Ada satu titik di mana manusia kehilangan arah: saat ia rela menjadi “pasang badan” untuk sesuatu yang jelas-jelas salah, hanya demi kepentingan sesaat. Mereka yang memilih jalan ini seringkali mengira dirinya sedang membela kebenaran, padahal sejatinya mereka sedang memperalat lidah, hati, dan tenaga untuk sesuatu yang hina. Inilah wajah asli penjilat—orang yang menggadaikan prinsip dan akal sehat demi mengais remah-remah dari meja kekuasaan atau nafsu pribadinya.

Orang semacam ini tidak lagi mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Baginya, yang benar adalah apa yang menguntungkan dirinya, yang salah adalah apa yang mengancam kenyamanannya. Otaknya seakan telah dipelintir oleh nafsu biadab, hingga ia memandang kegelapan sebagai cahaya, dan menelan kebusukan seolah-olah itu madu. Ia lupa bahwa keadilan dan kebenaran bukanlah barang dagangan yang bisa diperdagangkan dengan sedikit sanjungan dan rasa aman palsu.

Yang lebih menyedihkan, mereka tidak sadar bahwa sedang berada di medan perang paling menentukan: perang melawan nafsu. Perang ini jauh lebih dahsyat daripada perang melawan musuh di luar. Sebab musuh di luar hanya bisa melukai tubuh, sedangkan nafsu yang dibiarkan liar dapat membinasakan jiwa. Mereka yang kalah dalam perang ini akan hidup sebagai budak—budak dari syahwat, kepentingan, dan ketakutan.

Bayangkan, betapa hinanya orang yang membela kebatilan dengan semangat seolah sedang membela kebenaran. Ia berdiri di garis depan, menangkis kritik, menyerang lawan, dan menghalalkan segala cara demi mempertahankan sesuatu yang jelas-jelas busuk. Semua itu dilakukan dengan wajah tanpa malu, seakan-akan dunia ini hanya permainan kecil yang tidak punya pertanggungjawaban. Padahal, sejarah tidak pernah berpihak pada mereka yang menjilat. Nama mereka akan selalu dicatat sebagai pengkhianat akal sehat, penjilat murahan yang menggadaikan harga diri.

Namun, tentu saja, nafsu membuat mereka buta. Bagi mereka, yang penting hari ini aman, perut kenyang, kantong terisi, atau kekuasaan yang mereka dekati masih memberi perlindungan. Besok? Urusan nanti. Neraka? Ah, itu dianggap hanya dongeng pengganggu. Maka tak heran bila mereka tertawa ketika orang lain bicara soal moral, etika, atau kebenaran.

Inilah hakikat kekalahan dalam perang melawan nafsu. Mereka mungkin tampak gagah di luar, suaranya keras, tubuhnya tegap, dan argumentasinya lantang. Tapi di dalam dirinya, mereka hanyalah orang yang sudah hancur. Hancur karena memilih tunduk pada godaan paling rendah: rasa aman palsu dan kepentingan sesaat.

Pada akhirnya, mereka yang pasang badan untuk kebatilan bukanlah pahlawan, melainkan pecundang. Mereka berperang, tapi bukan melawan musuh sejati—melainkan menyerah total pada nafsu mereka sendiri. Dan sejarah, dengan segala ketegasannya, akan menyingkirkan nama-nama mereka ke sudut gelap, bersama dengan para pengkhianat kebenaran yang pernah ada.

Itulah wajah asli penjilat: manusia yang kalah sebelum benar-benar berperang. ( IR )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *