BANYUWANGI – Puluhan warga binaan perempuan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi mendapatkan pembekalan keterampilan baru berupa seni meronce tas. Program pemberdayaan ini terwujud berkat kerja sama antara Lapas Banyuwangi dengan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Kabupaten Banyuwangi yang digelar di Aula Sahardjo Lapas Banyuwangi, Senin (31/8).
Pelatihan tersebut dirancang untuk mengasah kreativitas sekaligus memberikan kecakapan hidup (life skill) bagi para warga binaan perempuan agar tetap produktif selama menjalani masa pidana.
Mewakili Kepala Lapas Banyuwangi, Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas (Ka. KPLP) Lapas Banyuwangi, Angga Nurdiansyah, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pembinaan kemandirian yang sangat positif dan berharga.
“Pelatihan ini menjadi bekal keterampilan yang sangat penting bagi warga binaan setelah bebas nantinya. Kami berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti pada sesi pelatihan saja, tetapi benar-benar dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh warga binaan sehingga memberikan nilai manfaat yang nyata untuk kehidupan mereka kelak,” ujar Angga.
Ia juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada DPC IWAPI Banyuwangi atas kepedulian dan kontribusi aktif mereka dalam mendukung program pembinaan bagi warga binaan perempuan.
Sementara itu, perwakilan dari DPC IWAPI Banyuwangi, Fitriah Wulandari menegaskan bahwa para warga binaan memiliki potensi besar untuk menguasai keterampilan berbakat yang memiliki nilai jual.
“Seni meronce tas merupakan salah satu kerajinan yang sangat potensial dan dapat dikerjakan secara fleksibel di sela-sela waktu mereka menjalani masa pidana,” ungkap Fitri.
Melalui kolaborasi ini, Lapas Banyuwangi dan DPC IWAPI Banyuwangi berkomitmen untuk terus mendorong lahirnya karya-karya berkualitas dari balik jeruji, sekaligus menyiapkan para warga binaan menjadi pribadi yang mandiri dan siap berintegrasi kembali ke tengah masyarakat.




