BLUD SMK Aceh Utara Didorong Semakin Mandiri, Program “Bela dan Beli” Kenalkan Produk Sekolah ke Masyarakat

ACEH UTARA, Starbpknews.id — Program Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) SMK di Aceh Utara terus didorong untuk berkembang menjadi bagian dari penguatan pendidikan vokasi yang produktif, mandiri dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat serta dunia kerja.

 

Upaya tersebut dilakukan melalui program “Bela dan Beli Produk BLUD SMK” yang digelar di sejumlah wilayah Kabupaten Aceh Utara, Senin (10/8/2026).

 

Program ini menjadi sarana bagi sekolah untuk memperkenalkan berbagai produk dan jasa yang dihasilkan melalui unit produksi sesuai kompetensi keahlian masing-masing SMK.

 

Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Wilayah Kabupaten Aceh Utara, Muhammad Johan, S.Pd., M.Pd., mengatakan penerapan BLUD di SMK tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan keuangan sekolah.

 

Menurutnya, BLUD merupakan bagian dari upaya membangun SMK yang mampu mengembangkan potensi sekolah secara produktif sekaligus memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik.

 

“SMK memiliki potensi besar untuk mengembangkan berbagai produk dan jasa melalui kompetensi keahlian yang dimiliki masing-masing sekolah,” kata Muhammad Johan.

 

Ia menilai potensi tersebut perlu dikelola secara profesional agar kegiatan pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga memberikan pengalaman kepada siswa dalam menghasilkan produk dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.

 

Dalam pengembangan BLUD, terdapat 10 SMK di Kabupaten Aceh Utara yang mengikuti program tersebut.

 

Sementara itu, kegiatan “Bela dan Beli Produk BLUD SMK” yang dilaksanakan di wilayah tengah Aceh Utara melibatkan empat sekolah, yakni SMK Negeri 1 Cot Girek, SMK Negeri 1 Lhoksukon, SMK Negeri 1 Syamtalira Aron dan SMK Negeri 1 Tanah Luas.

 

Kegiatan dipusatkan di kawasan simpang empat lampu merah Kota Lhoksukon sebagai salah satu lokasi strategis untuk memperkenalkan produk dan layanan sekolah kepada masyarakat.

 

Selain Lhoksukon, sosialisasi program “Bela dan Beli” juga menyasar dua kawasan lainnya, yaitu Panton Labu dan Krueng Geukuh.

 

Kepala SMK Negeri 1 Cot Girek, Maimun, mengatakan masing-masing sekolah menampilkan produk maupun jasa sesuai kompetensi keahlian yang dimiliki.

 

“Program hari ini namanya Bela dan Beli Produk BLUD SMK untuk wilayah tengah. Ada empat sekolah yang ikut,” ujar Maimun.

 

SMK Negeri 1 Cot Girek memperkenalkan berbagai produk dari kompetensi Agriteknologi Pengolahan Hasil Pertanian (APHP), produk olahan makanan, pupuk kompos hingga kerajinan.

 

Kemudian, SMK Negeri 1 Lhoksukon yang dipimpin Azhari, memperkenalkan layanan servis sepeda motor dan kendaraan. Dalam kegiatan tersebut, sekolah juga memberikan layanan servis gratis sebagai bagian dari promosi kompetensi sekolah.

 

Sementara SMK Negeri 1 Tanah Luas di bawah kepemimpinan Mahdi, menampilkan layanan perawatan dan servis kendaraan ringan.

 

Sedangkan SMK Negeri 1 Syamtalira Aron yang dipimpin Murhaban, memperkenalkan berbagai kompetensi dan program sekolah kepada masyarakat.

 

Maimun menjelaskan kegiatan tersebut bukan hanya sekadar pameran produk sekolah. Program itu menjadi bagian dari strategi memperkenalkan kemampuan SMK dalam menghasilkan barang dan jasa yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

 

“Target pentingnya, produk ini diketahui oleh masyarakat. Masyarakat tahu bahwa di SMK itu ada produk seperti di tempat-tempat lain yang bisa dibeli,” katanya.

 

Program “Bela dan Beli” diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk lebih mengenal sekaligus menggunakan produk dan jasa yang dihasilkan SMK di Aceh Utara.

 

Gerakan tersebut juga diarahkan untuk membangun rasa bangga terhadap produk sekolah sendiri sehingga hasil karya siswa dan guru tidak berhenti sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran.

 

Produk yang dihasilkan melalui unit produksi sekolah diharapkan dapat memiliki nilai ekonomi dan dikembangkan secara berkelanjutan.

 

Menurut Muhammad Johan, keberhasilan BLUD SMK tidak semata-mata ditentukan dari besarnya pendapatan yang mampu diperoleh sekolah.

 

Lebih dari itu, BLUD harus mampu memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas pembelajaran, keterampilan peserta didik, kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri serta manfaat bagi masyarakat.

 

Muhammad Johan juga menekankan perlunya perubahan pola pikir dalam pengelolaan pendidikan SMK di Aceh Utara.

 

Sekolah diharapkan tidak hanya berorientasi pada proses pembelajaran di ruang kelas, tetapi mampu mengembangkan unit produksi dan layanan yang berkaitan langsung dengan kompetensi keahlian.

 

Dengan demikian, siswa dapat memperoleh pengalaman dalam proses produksi, pelayanan, pemasaran dan mengenal kebutuhan pasar.

 

Penerapan BLUD juga memberikan ruang bagi sekolah untuk mengembangkan potensi layanan dan usaha secara lebih fleksibel dengan tetap mengedepankan prinsip akuntabilitas, transparansi serta kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.

 

Pengembangan BLUD SMK di Aceh Utara diharapkan dapat memperkuat pendidikan vokasi agar semakin dekat dengan kebutuhan dunia kerja.

 

Sekolah memiliki kesempatan untuk mengoptimalkan kompetensi guru, peserta didik, fasilitas praktik serta unit produksi agar dapat menghasilkan barang dan jasa yang memiliki manfaat bagi masyarakat.

 

Program “Bela dan Beli” sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi siswa untuk mengenal dunia usaha, memahami kebutuhan konsumen dan mengembangkan jiwa kewirausahaan.

 

Maimun berharap masyarakat yang membutuhkan produk maupun jasa yang tersedia di SMK dapat datang langsung ke sekolah.

 

“Harapannya supaya masyarakat pengguna produk bisa langsung datang ke SMK. Dengan demikian, BLUD di SMK itu bisa berkembang,” pungkasnya.

 

 

Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Aceh Utara berharap program BLUD dan “Bela dan Beli” dapat mendorong SMK semakin kreatif dan inovatif dalam mengembangkan potensi masing-masing.

 

Kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan dan peserta didik diharapkan dapat membangun ekosistem pendidikan vokasi yang produktif dan berdaya saing.

 

Dengan pengelolaan yang baik, BLUD SMK di Aceh Utara tidak hanya diharapkan meningkatkan kemandirian sekolah, tetapi juga memperkuat kualitas pembelajaran.

 

Pada akhirnya, program tersebut diharapkan mampu melahirkan lulusan SMK yang memiliki kompetensi teknis, pengalaman praktik, pemahaman terhadap dunia kerja dan jiwa kewirausahaan sehingga lebih siap menghadapi perkembangan kebutuhan tenaga kerja serta ekonomi daerah. (Muliadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *