Sabang Aceh, starbpknews,id.– Sensasi makan buah (boh bahasa Aceh) naga tentu semua orang tahu. Rasa manis serta sebaran bijinya yang renyahserta kandungan airnya yang lumer saat di gigit tentu memberi kesan menyegarkan. Apalagi dinikmati saat lelah sungguh lezat.
Kesan ini pula yang dirasakan oleh Ketua TP PKK Aceh Marlina Muzakir, saat menikmati buah naga pasca panen langsung dari salah satu kebun warga, di Gampong Ie Meule Kecamatan Sukajaya, Ahad (10/05).
“Boh Naga Sabang, meucrop barang,” itulah komentar singkat perempuan yang akrab disapa Kak Na itu usai menikmati gigitan pertama buah naga yang baru saja ia panen bersama Ketua TP PKK Kota Sabang Nuri Zulkifli.
Meucrop adalah ungkapan prokem bahasa Aceh. Meski tidak ada arti sejati dari ungkapan ini, namun meucrop biasanya diucapkan untuk menilai suatu makanan yang sangat nikmat, layaknya mengutarakan ‘maknyus” nan melegenda dari Almarhum Bondan Winarno, wartawan sekaligus pengamat kuliner kenamaan Indonesia.
Pada kesempatan tersebut, Kak Na mengapresiasi kreatifitas Hendri sang empunya kebun. Bersama istri Lisa Umami (50), pria berusia 60 tahun ini memanfaatkan lahan pinggiran kota di sisi rumahnya untuk menanami buah naga.
“Luar biasa Pak Hendri, kreatifitas dan keuletannya bersama sang istri telah berhasil mengubah lahan tidur di sisi rumahnya menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi tinggi. Ini tentu bagus dan harus diduplikasi, “ ujar Kak Na.
Siapa yang Menderita Diabetes Baca Segera sebelum Dihapus
Oleh karena itu, Kak Na mengimbau masyarakat Sabang dan masyarakat Aceh secara luas untuk mencontohkan apa yang telah dilakukan oleh Hendri dan sang istri.
“Masyarakat lain harus meniru, tidak harus buah naga, bisa juga menanam buah-buahan lain yang sesuai dengan jenis tanah Sabang dan memiliki potensi ekonomi yang tinggi,” ucap istri Gubernur Aceh itu.
“Untuk masyarakat Sabang dan para wisatawan yang berkunjung ke Sabang, mari datang ke kebun buah naga Pak Hendri. Datang, panen dan nikmati langsung dikebunnya. Buah naga nikmat dan murah meriah, hanya Rp25 ribu per kilogramnya. Jika kita beli di toko tentu akan jauh lebih mahal,” kata Kak Na berpromosi.
Sementara itu, Hendri sang pemilik kebun buah naga menjelaskan, saat ini produksinya belum bisa dipasarkan ke seluruh Kota Sabang. Bahkan untuk memenuhi permintaan lokal saja dirinya masih terbatas.
“Produksi kami belum bisa dikirim ke luar Bu, karena untuk memenuhi kebutuhan Sabang saja belum mencukupi. Sekali panen hanya mencapai 200-300 kilogram,” ungkap ayah dari lima orang anak itu.
Hendri mengungkapkan, minimnya produksi buah naga yang dikebunnya seluas lebih dari 5.000 meter persegi ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain pupuk dan lampu penerangan.
“Pupuk masih kurang. Selain itu, kami membutuhkan lampu untuk setiap pohon buah naga. Ini penting untuk merekayasa cahaya, karena buah naga itu membutuhkan paparan cahaya matahari minimal 14 jam per hari. Sementara daerah kami hanya menerima paparan cahaya matahari hanya 12 jam,” ungkap Hendri.
Oleh karena itu, lampu di setiap pohon buah naga penting untuk menambah waktu atas kekurangan paparan cahaya matahari dan mendukung proses fotosintesis.Kecukupan cahaya dan proses fotosintesis yang sempurna akan menambah jumlah produksi buah naga, sambung Hendri.
Saat ini, Hendri bersama sang istri menanam sebanyak 700 batang buah naga. 300 batang di antaranya telah berproduksi, sedangkan 400 batang lainnya sudah mulai berbunga.
Pewarta:(darman). Kabiro Sabang.




