Inhil, Starbpknews.id.25 Juli 2025 – Di tengah derasnya arus informasi dan praktik kepemimpinan yang kian diuji oleh moralitas, masyarakat dari berbagai latar belakang kini semakin menuntut hadirnya pemimpin yang jujur, adil, dan amanah. Dalam perspektif agama-agama besar yang dianut di Indonesia Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha sikap culas, tukang bohong, dan penipu dari seorang pemimpin bukan hanya merugikan rakyat, tetapi juga merupakan pelanggaran moral dan spiritual yang berat.
Islam: Kepemimpinan adalah Amanah, Bukan Ladang Dusta
Dalam ajaran Islam, kepemimpinan adalah amanah yang sangat berat. Seorang pemimpin yang berdusta dan culas tergolong dalam ciri-ciri orang munafik. Rasulullah SAW bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga: jika berkata ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah memerintahkan pemimpin untuk menunaikan amanah dengan adil (QS. An-Nisa: 58). Pemimpin yang menipu rakyatnya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah pada hari kiamat.
Kristen: Yesus Adalah Teladan Kepemimpinan Sejati
Dalam Kekristenan, kejujuran adalah dasar utama kehidupan dan pelayanan. Alkitab mengecam para pemimpin yang menindas, memanipulasi, atau menipu rakyatnya. “Celakalah kamu, hai pemimpin buta… kamu menyaring nyamuk tetapi menelan unta!” (Matius 23:24).
Yesus Kristus mengajarkan bahwa pemimpin sejati adalah pelayan, bukan penguasa yang memperalat jabatan untuk keuntungan pribadi.
Dusta dianggap sebagai pekerjaan iblis, karena iblis disebut sebagai “bapak segala dusta” (Yohanes 8:44). Maka, pemimpin Kristen sejati harus berjalan dalam kebenaran, integritas, dan kasih.
Hindu: Pemimpin Harus Menjalankan Dharma
Dalam tradisi Hindu, pemimpin adalah pelaksana Rājadharma – hukum dan kewajiban mulia seorang raja atau pemimpin. Pemimpin wajib menjaga satya (kebenaran) dan nyaya (keadilan).
Kitab Manusmriti menyatakan, “Raja yang tidak memimpin dengan dharma akan membawa kehancuran pada dirinya dan rakyatnya.”
Sikap culas dan penipuan dianggap sebagai pelanggaran terhadap hukum karma, yang akan berbuah penderitaan baik di dunia ini maupun di kehidupan mendatang.
Buddha: Kepemimpinan Harus Berdasarkan Dhamma
Dalam Buddhisme, seorang pemimpin (raja atau kepala pemerintahan) seharusnya mempraktikkan Dasa Raja Dhamma – sepuluh kebajikan pemimpin. Di antaranya adalah: sacca (kejujuran), ajjava (ketulusan), dan sila (moralitas).
Pemimpin yang culas dan bohong melanggar sila dasar dan menghasilkan karma buruk. Dalam ajaran Buddha, kebohongan adalah bentuk kekerasan terhadap kebenaran dan membawa penderitaan luas.

Seruan Moral: Rakyat Berhak Menuntut Kepemimpinan yang Bermoral
Keempat agama besar tersebut sepakat: pemimpin culas, pembohong, dan penipu tidak layak mengemban amanah rakyat.
Agama tidak mengajarkan ketaatan buta, melainkan ketaatan yang berpijak pada keadilan, kebenaran, dan moralitas.
Masyarakat, terutama umat beragama, memiliki hak dan kewajiban moral untuk:
Mengingatkan dan mengkritik pemimpin yang menyimpang
Menolak praktik politik busuk dan manipulatif
Mengangkat pemimpin yang memiliki integritas spiritual dan sosial
Penutup:
Dalam suasana kehidupan berbangsa dan bernegara yang menuntut keteladanan, seruan moral lintas agama ini menjadi pengingat bersama: pemimpin bukan hanya ditakar dari pencitraan dan kekuasaan, tetapi dari nilai-nilai yang dijunjung dalam nurani dan ajaran luhur agama.
(Idham rizal)




