Payakumbuh “Rasa” Bukittinggi: Ketika Putra Daerah Hanya Jadi Penonton di Rumah Sendiri

PAYAKUMBUH – starbpknews.id — Aroma “kekeluargaan” tampaknya semakin menyengat di lingkungan Balai Kota Payakumbuh. Isu hangat yang kini menjadi konsumsi publik adalah kemunculan nama Amrinsyah Darwis, SE, atau yang akrab disapa Inyiak, sebagai kandidat kuat Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Payakumbuh untuk menggeser posisi strategis saat ini.

Namun, bukan segudang pengalaman di Kemendagri atau keahliannya di bidang SIPADES yang menjadi sorotan utama. Masyarakat justru terheran-heran dengan “keajaiban” karier sang Inyiak. Bagaimana tidak? Baru seumur jagung, kurang lebih dua bulan, menginjakkan kaki di birokrasi Payakumbuh, beliau langsung melejit menjadi sosok paling berpengaruh.

Publik kini bertanya-tanya: Apakah kursi jabatan di Payakumbuh sedang bertransformasi menjadi “arisan keluarga” yang bisa dimenangkan dengan jalur ekspres?

“Dinasti” Bukittinggi dan Nasib Anak Nagari yang Terpinggirkan

Kritik tajam mengalir deras dari tokoh masyarakat Payakumbuh, Om Sai. Dengan nada satir dan getir, ia menyuarakan kegelisahan warga asli yang merasa dianaktirikan di tanah kelahiran sendiri. Menurutnya, kepemimpinan Walikota Zumaita seolah sedang memboyong “gerbong” dari Bukittinggi, nagari asal sang Walikota,
untuk mencengkeram posisi-posisi kunci.

“Anak orang asli Payakumbuh pada ke mana? Apakah sudah tidak ada lagi yang berkompeten?” tanya Om Sai menyindir. “Baru dua bulan masuk, eh… tiba-tiba sudah jadi orang paling berkuasa. Ini prestasi atau karena statusnya yang merupakan ‘Bako’ dari Walikota?”

Sambil tersipu-sipu menahan tawa getir, Om Sai menyebut fenomena ini sebagai “sejumput harapan yang membawa sengsara bagi pribumi”. Ia menilai dominasi kelompok luar ini telah menutup pintu bagi putra daerah terbaik untuk mengabdi.

Sentimen ini kian menguat setelah Ikatan Keluarga Agam Bukittinggi (IKAB) Payakumbuh/50 Kota merilis ucapan selamat kepada lima pejabat baru yang “kebetulan” memiliki kedekatan emosional dengan lingkaran kekuasaan:

1. Dr. Syahri (Inspektur Kota Payakumbuh)
2. Rajman Sunardi, ST, MT (Kabag Dalbang & PBJ)
3. Drs. Danil Defo (Kabag Pemerintahan)
4. Dewi Mulia, SSTP (Camat Payakumbuh Selatan)
5. Yulia Fitri, ST, MEng (Sekretaris Dinas LH)

Karpet Merah dan Hilangnya Marwah Pribumi

Munculnya deretan nama tersebut di bawah restu Walikota seolah mengonfirmasi kekhawatiran publik bahwa Payakumbuh sedang “dijajah” secara birokrasi oleh kedekatan asal daerah dan hubungan kekerabatan.

Amrinsyah Darwis yang kini menjabat Sekretaris Dinas Sosial memang menjanjikan target muluk di tahun 2026. Namun, di mata warga yang kritis, jargon “kebangkitan ekonomi” itu terasa hambar jika struktur pemerintahan hanya diisi oleh “orang kita” dalam artian sempit.

“Jika kursi Sekda nanti benar-benar diserahkan kepada sang Inyiak, maka lengkap sudah dominasi ‘Kubu Zumaita’ di jantung kota ini,” tambah sumber di lapangan.

Warga Kota Randang kini hanya bisa menonton drama ini dari pinggir jalan. Apakah Payakumbuh masih milik rakyatnya, atau telah berubah menjadi “cabang administratif” untuk kepentingan kelompok tertentu? Selama “karpet merah” hanya digelar untuk sanak famili dan orang selingkaran nagari Walikota, maka selama itu pula putra asli Payakumbuh dipaksa gigit jari di rumah sendiri.

( Tim )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *