Kampung Siaga Bencana Dikukuhkan, Sistem Satu Komando Diterapkan untuk Percepatan Penanganan

 

 

Lima Puluh Kota, — starboknews.id — 7 Juli 2026

 

Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota terus memperkuat langkah mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana alam yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Mengingat kondisi geografis daerah yang menyimpan potensi ancaman banjir, longsor, angin kencang, hingga kebakaran, kesiapan masyarakat menjadi faktor penentu keselamatan pada menit-menit awal kejadian. Salah satu langkah nyata yang ditempuh adalah pembentukan dan pengukuhan Kampung Siaga Bencana (KSB) Sulam Naga di Kecamatan Suliki, yang ditetapkan sebagai kawasan percontohan.

 

Kegiatan pengukuhan berlangsung Minggu, 5 Juli 2026 di Lapangan Ateh Kubu Jorong Suliki Pasar, Nagari Suliki. Sebanyak 60 orang perwakilan dari enam nagari — Andiang, Suliki, Limbanang, Tanjung Bungo, Kurai, dan Sungai Rimbang — dikukuhkan sebagai pengurus KSB. Acara ini dilaksanakan bersama Kementerian Sosial RI, Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat, BPBD Kabupaten Lima Puluh Kota, serta didukung unsur TNI, Polri, Tagana, dan relawan.

 

Masyarakat Bukan Lagi Hanya Menunggu Pertolongan

 

Bupati Lima Puluh Kota, Safni Sikumbang, menegaskan bahwa penanggulangan bencana tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah semata. Masyarakat harus berperan aktif sebagai garda terdepan.

 

“KSB menjadi wadah agar warga tidak lagi hanya menjadi objek yang menunggu bantuan, melainkan subjek yang mampu mengenali risiko, mengambil tindakan awal, dan membantu sesama. Pengukuhan ini bukan sekadar seremoni, melainkan awal tanggung jawab besar untuk menjaga lingkungan masing-masing,” ujarnya.

 

Ia menambahkan, kesiapsiagaan harus dibangun menjadi budaya, disertai pelestarian alam dan semangat gotong royong yang sudah menjadi ciri khas masyarakat Minangkabau.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Lima Puluh Kota, Indra Suryani, menjelaskan bahwa pembentukan KSB dilakukan melalui proses sosialisasi, pelatihan, hingga uji coba langsung. “Penanganan bencana dimulai jauh sebelum peristiwa terjadi. Pengurus yang dikukuhkan ini nantinya bertugas memetakan risiko, menyusun jalur evakuasi, membangun sistem peringatan dini, hingga melakukan penanganan awal sebelum bantuan dari luar tiba,” jelasnya.

 

Sistem Satu Komando: Jaminan Kecepatan dan Ketepatan

 

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lima Puluh Kota, Zaimar Hakim, menekankan pentingnya penerapan Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana (SKPDB). Di hadapan 60 pengurus KSB dan para relawan, ia menyampaikan bahwa kecepatan menentukan keselamatan jiwa.

 

“Dalam situasi darurat, waktu memisahkan antara hidup dan mati. Keterlambatan sedikit saja bisa berakibat fatal. Oleh karena itu, ketika status Tanggap Darurat ditetapkan, BPBD memiliki kewenangan hukum penuh sesuai Pasal 50 UU Nomor 24 Tahun 2007 dan PP Nomor 21 Tahun 2008 untuk memangkas birokrasi, mengerahkan sumber daya, dan mengkoordinasikan seluruh unsur tanpa hambatan,” tegas Zaimar.

 

Ia menegaskan bahwa sistem satu komando ini bertujuan menghilangkan ego sektoral agar seluruh kekuatan terpusat pada satu tujuan utama: penyelamatan jiwa dan harta benda. Ke depannya, penguatan akan difokuskan pada peningkatan kapasitas hingga tingkat nagari serta penerapan sistem peringatan dini berbasis digital.

 

Dukungan Sarana dan Logistik

 

Pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial memberikan dukungan senilai Rp157.577.500 untuk mendukung operasional KSB Sulam Naga. Bantuan tersebut meliputi penyediaan peralatan kesiapsiagaan, pengisian Lumbung Sosial sebagai cadangan logistik, serta pelaksanaan program Tagana Masuk Sekolah guna menanamkan pengetahuan kebencanaan sejak dini kepada generasi muda.

 

Setelah pengukuhan dan pembacaan ikrar, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi penanganan keadaan darurat. Seluruh unsur menjalankan peran sesuai prosedur baku, sehingga kekurangan dalam koordinasi dapat diperbaiki sebelum diterapkan dalam kondisi nyata.

 

“Keberhasilan KSB tidak diukur dari seragam atau seremoninya, melainkan saat bencana benar-benar datang dan masyarakat mampu bertindak cepat, teratur, dan saling bantu. Di Suliki, benteng keselamatan itu sudah mulai dibangun,” pungkas Zaimar Hakim.

 

( Mahwel )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *