Banyuasin – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri) melaksanakan kegiatan “Sosialisasi Pemanfaatan Sensor Suhu dan Kelembapan Sederhana untuk Monitoring Pengeringan Laos di Desa Merah Mata Kecamatan Banyuasin I” sebagai upaya penerapan teknologi tepat guna dalam mendukung pengolahan hasil pertanian masyarakat. Kegiatan ini merupakan bagian dari skema Pengabdian kepada Masyarakat Kerja Sama Dosen dan Mahasiswa Polsri Tahun 2026.
Kegiatan dilaksanakan di Dusun IV, Desa Merah Mata, Kecamatan Banyuasin I, Kabupaten Banyuasin, dengan melibatkan masyarakat yang berkecimpung dalam kegiatan pertanian dan pengolahan lengkuas. Desa Merah Mata memiliki potensi pertanian yang cukup besar, khususnya komoditas laos atau lengkuas yang dimanfaatkan sebagai bahan bumbu, rempah, herbal, hingga bahan baku berbagai produk olahan. Data yang dicantumkan dalam laporan kegiatan menunjukkan produksi tanaman laos di wilayah tersebut mencapai 210.040 kg pada tahun 2023, sehingga peningkatan kualitas penanganan pascapanen menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung nilai tambah komoditas lokal.
Tim pengabdian diketuai oleh Agum Try Wardhana, B.Eng., M.Tr.T., dengan anggota dosen Dewi Permata Sari, S.T., M.Kom. dan Ibnu Maja, S.Si., M.M., serta melibatkan mahasiswa Ahmadil Barokah dan Stevanus Simanjuntak dari lingkungan Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Sriwijaya. Mitra kegiatan adalah Kelompok Tani Desa Merah Mata yang berlokasi di Dusun IV Desa Merah Mata. Program ini dilatarbelakangi oleh proses pengeringan laos yang selama ini masih banyak mengandalkan sinar matahari dan pengalaman masyarakat. Tingkat kekeringan umumnya ditentukan berdasarkan lama penjemuran, perubahan warna, dan tekstur bahan. Padahal, suhu dan kelembapan udara merupakan parameter penting yang memengaruhi proses penguapan air, tingkat kekeringan, mutu, serta daya simpan produk. Kelembapan udara yang tinggi, misalnya, dapat menyebabkan proses pengeringan menjadi lebih lama dan hasil pengeringan kurang merata.
Melalui kegiatan pengabdian ini, masyarakat diperkenalkan dengan teknologi monitoring suhu dan kelembapan sederhana yang dapat digunakan sebagai alat bantu dalam mengamati kondisi udara di sekitar area pengeringan. Teknologi tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan cara pengeringan tradisional yang telah digunakan masyarakat, melainkan memberikan informasi tambahan berupa data terukur sehingga proses pengeringan dapat dilakukan secara lebih terarah. Pelaksanaan kegiatan meliputi penyampaian materi mengenai pengaruh suhu dan kelembapan terhadap pengeringan, demonstrasi penggunaan alat, praktik membaca data, diskusi, serta tanya jawab. Peserta diperkenalkan dengan komponen dan fungsi alat, cara mengaktifkan perangkat, membaca nilai suhu dan kelembapan pada layar, serta menentukan lokasi penempatan sensor agar data yang diperoleh dapat menggambarkan kondisi udara di sekitar bahan yang dikeringkan. Tidak hanya menerima materi, peserta juga memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan penggunaan alat secara langsung. Data suhu dan kelembapan yang terbaca kemudian digunakan sebagai bahan diskusi dalam menentukan tindakan yang dapat dilakukan selama proses pengeringan. Ketika kelembapan udara masih tinggi, masyarakat dapat mempertimbangkan beberapa langkah seperti memperpanjang waktu pengeringan, memperbaiki sirkulasi udara, mengurangi ketebalan tumpukan atau irisan laos, maupun memindahkan bahan ke lokasi yang lebih kering. Teknologi yang diperkenalkan menggunakan sensor suhu dan kelembapan DHT22 yang terintegrasi dengan ESP32 dan Internet of Things (IoT). Sistem tersebut dikembangkan sebagai contoh teknologi tepat guna yang relatif sederhana untuk edukasi masyarakat dan dapat diterapkan sebagai pendukung proses pengeringan laos.
Berdasarkan evaluasi sementara melalui observasi, diskusi, tanya jawab, dan kuesioner, peserta menunjukkan ketertarikan terhadap penggunaan alat monitoring serta mampu mengikuti proses pembacaan data yang diperagakan oleh tim. Sebagian besar peserta juga telah dapat menyebutkan tindakan sederhana yang dapat dilakukan ketika kelembapan udara di area pengeringan masih tinggi. Keterlibatan masyarakat turut menjadi bagian penting dalam keberhasilan program. Mitra berpartisipasi sejak tahap persiapan dengan memberikan informasi mengenai kebiasaan pengeringan laos, membantu menentukan waktu kegiatan, menyediakan lokasi, mengoordinasikan peserta, hingga menunjukkan area yang biasa digunakan untuk proses pengeringan. Saat kegiatan berlangsung, masyarakat juga aktif mengikuti materi, demonstrasi, praktik, dan diskusi mengenai kemungkinan penerapan alat dalam kegiatan sehari-hari.
Melalui kegiatan ini, penerapan keilmuan Teknik Elektro diharapkan dapat semakin dekat dengan kebutuhan nyata masyarakat, khususnya dalam mendukung penanganan pascapanen hasil pertanian. Pemanfaatan teknologi monitoring yang sederhana menjadi langkah awal untuk mendorong proses pengeringan laos yang lebih terukur, membantu menjaga kualitas produk, memperpanjang daya simpan, serta mendukung pengembangan potensi pertanian Desa Merah Mata secara berkelanjutan. Politeknik Negeri Sriwijaya melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat terus mendorong kolaborasi dosen, mahasiswa, dan masyarakat dalam menghadirkan teknologi yang aplikatif, mudah digunakan, serta sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal masyarakat.




