TUMPUKAN SAMPAH MENYESAKAN PAYAKUMBUH, CATATAN KOTOR DI TENGAH PRESTASI KEBERSIHAN
Payakumbuh, — starbpknews.id — 30 Juni 2026 – Pemandangan tak sedap kembali menyapa warga Kota Payakumbuh. Sejak pagi hari, tumpukan sampah yang seharusnya sudah diangkut justru terlihat berserakan dari area Pasar menuju sepanjang Jalan Sukarno Hatta. Meskipun secara administratif sampah tersebut dikumpulkan di titik yang telah ditentukan, keterlambatan pengangkutan hingga pukul 10.30 Wib membuat lingkungan terlihat kumuh dan mengganggu kenyamanan serta pandangan mata masyarakat.
Keterlambatan yang Menjadi Pertanyaan
Berdasarkan pantauan di lapangan, warga mengaku kebiasaan pengangkutan sampah selama ini berjalan tertib. Biasanya, petugas kebersihan sudah mulai bekerja dan mengangkut tumpukan sampah paling lambat pukul 07.00 pagi agar tidak menumpuk lama di pinggir jalan. Namun pada hari ini, rutinitas itu terganggu. Sampah tetap teronggok, bahkan sebagian sudah berserakan ke badan jalan.
Merespons kondisi ini, seorang tokoh masyarakat setempat angkat bicara memberikan dugaan awal. “Mungkin saja petugas atau pengelola di Lingkungan Hidup sedang sibuk mengurusi urusan masuk sekolah anak-anak, sehingga pekerjaan kebersihan sedikit terabaikan,” ujarnya secara singkat.
Namun alasan itu pun tidak sepenuhnya memuaskan warga yang mulai mempertanyakan kinerja instansi terkait.
Awak media berusaha menelusuri kejelasan lebih lanjut dengan menghubungi Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Payakumbuh, Deni. Namun hingga berita ini diturunkan, upaya menghubungi melalui telepon sebanyak tiga kali dan pesan singkat lewat aplikasi WhatsApp tidak membuahkan hasil. Nomor ponsel pejabat tersebut tercatat dalam keadaan tidak aktif atau berada di luar jangkauan, sehingga belum ada tanggapan resmi dari pihak dinas.
Kondisi ini memicu kekhawatiran warga. Ingatan mereka kembali teringat pada peristiwa satu tahun silam, ketika Kota Payakumbuh sempat dilanda “banjir sampah” yang menjadi sorotan publik. Kini, situasi yang hampir serupa muncul kembali, seolah luka yang pernah sembuh itu kini menganga dan berdarah lagi.
Ironisnya, kekisruhan ini terjadi justru di kota yang selama ini dikenal sebagai panutan kebersihan. Kota Payakumbuh pernah dijadikan contoh bagi daerah lain dan bahkan meraih sejumlah penghargaan di tingkat nasional berkat pengelolaan lingkungannya yang baik.
Masalah di Balik Layar: Status TPA yang Belum Jelas
Dugaan muncul bahwa keterlambatan ini bukan sekadar masalah keterlambatan petugas, melainkan menyentuh pada akar persoalan yang lebih mendasar: ketersediaan tempat pembuangan akhir.
Diketahui bahwa Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang digunakan saat ini baru memiliki status izin penggunaan bersifat sementara. Surat perjanjian itu sudah berlaku selama satu tahun setengah lebih, namun hingga saat ini belum ada kejelasan apakah statusnya akan dipermanenkan atau dipindahkan ke lokasi baru. Ketidakpastian status ini dikhawatirkan menjadi biang keladi terhambatnya operasional pengangkutan dan pengelolaan sampah secara optimal.
Akankah penghargaan yang pernah diraih hanya menjadi pajangan semata, sementara persoalan mendasar seperti izin TPA dan kedisiplinan pengelolaan lingkungan dibiarkan menggantung? Warga menanti jawaban nyata dari pemangku kebijakan, bukan sekadar tumpukan sampah yang terus menunggu di pinggir jalan.
( Mahwel )



