Berita – Starbpknews.id Oleh: Idham Rizal – DPC PPWI Inhil
Pendahuluan: Sebuah Serambi yang Berdarah
Sejarah tidak pernah lahir dari ruang hampa. Ia tercipta dari benturan kepentingan, pertarungan ideologi, hingga perlawanan yang menelan korban jiwa. Salah satu drama sejarah paling panjang, berdarah, sekaligus heroik yang pernah terjadi di Nusantara adalah De Atjeh Oorlog—Perang Aceh melawan kolonial Belanda.
Aceh, yang lebih masyhur disebut sebagai Serambi Mekkah, menjelma menjadi Serambi Merah dalam kurun 1873 hingga awal abad ke-20. Merah oleh darah para syuhada, merah oleh api peperangan, merah oleh keberanian yang tak pernah padam.
Pertanyaan besar yang mendasari perlawanan rakyat Aceh hanya satu: apakah kita memilih mati syahid, atau hidup terhina di bawah penindasan asing?
Babak I: Aceh Sebelum Badai
Sebelum Belanda menancapkan kukunya, Aceh adalah sebuah kesultanan yang disegani. Di abad ke-16 dan ke-17, Kesultanan Aceh Darussalam menjadi pusat perdagangan internasional, tempat berkumpulnya pedagang Arab, Turki, India, Tiongkok, hingga bangsa Eropa. Islam menyatu erat dengan identitas sosial dan politik.
Meski abad ke-19 menyaksikan kemunduran kekuatan militer dan politik Aceh, semangat keislaman dan kemandirian masih membara. Ketika Belanda berusaha menancapkan kekuasaan di seluruh Nusantara, Aceh tampil sebagai benteng terakhir.
Bagi rakyat Aceh, tunduk pada kekuasaan kafir kolonial bukanlah pilihan. Perlawanan adalah konsekuensi iman.
Babak II: Letusan Perang – 1873
Perang Aceh resmi meletus pada tahun 1873. Belanda dengan pongah melancarkan ekspedisi militer besar-besaran. Mereka beranggapan, seperti daerah lain di Nusantara, Aceh akan cepat ditaklukkan. Tetapi kenyataan berbeda.
Pasukan kolonial yang dipimpin Mayor Jenderal Köhler justru dipukul mundur. Köhler sendiri tewas di halaman Masjid Raya Baiturrahman—sebuah simbol: kekalahan telak yang mencoreng kehormatan Belanda.
Sejak saat itu, De Atjeh Oorlog berubah menjadi mimpi buruk bagi negeri Belanda. Perang ini bukan hanya berlangsung beberapa tahun, melainkan berlarut-larut hingga lebih dari tiga dekade.
Babak III: Syuhada dan Pahlawan
Sejarah mencatat nama-nama yang harum dan abadi.
Teuku Umar, sang pejuang yang dikenal dengan strategi perang sabil. Beliau sempat menggunakan taktik berpura-pura tunduk pada Belanda untuk mendapatkan persenjataan, lalu berbalik menyerang mereka.
Cut Nyak Dhien, istri Teuku Umar, yang melanjutkan perjuangan dengan penuh api semangat meski dalam keadaan buta dan terlunta-lunta.
Panglima Polem dan Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman, ulama karismatik yang menyeru jihad fi sabilillah.
Ribuan rakyat kecil yang tanpa nama, tanpa gelar, tetapi mengorbankan nyawa demi mempertahankan marwah Aceh.
Bagi mereka, mati syahid adalah kehormatan, sementara menyerah kepada penjajah adalah kehinaan.
Babak IV: Strategi Kolonial – Politik Adu Domba
Belanda sadar bahwa menaklukkan Aceh dengan kekuatan militer semata adalah mustahil. Maka mereka mengubah strategi: memanfaatkan perpecahan internal antara kaum uleebalang (bangsawan) dan para ulama.
Lahir strategi yang dikenal sebagai Politik Etis Aceh di bawah Snouck Hurgronje. Ia menyusup ke jantung kehidupan masyarakat Aceh dengan menyamar sebagai seorang Muslim, bahkan menikahi perempuan lokal, untuk memahami pola pikir rakyat.
Snouck menyimpulkan bahwa kekuatan utama perlawanan Aceh bersumber dari ulama dan ajaran jihad. Karena itu Belanda berusaha mendekati uleebalang dengan memberikan kedudukan dan fasilitas, sambil memukul keras ulama dan laskar rakyat.
Politik adu domba ini memang melemahkan perlawanan. Namun, api jihad tidak pernah padam sepenuhnya.
Babak V: Penderitaan dan Kehormatan
Perang Aceh menelan korban yang luar biasa besar. Diperkirakan ratusan ribu rakyat Aceh gugur, baik sebagai pejuang maupun korban sipil. Desa-desa dibumihanguskan, sawah ladang hancur, rakyat kelaparan.
Namun, di tengah penderitaan itu, tekad rakyat Aceh tidak surut. Perang gerilya terus berlangsung hingga awal abad ke-20, bahkan setelah Belanda menyatakan “Aceh telah ditaklukkan” pada 1904. Sisa-sisa perlawanan masih berlangsung hingga tahun 1912 dan bahkan hingga pendudukan Jepang di 1942.
Drama panjang ini menunjukkan bahwa bagi rakyat Aceh, lebih baik musnah dalam kemuliaan daripada hidup dalam kehinaan.
Babak VI: Syahid atau Terhina – Sebuah Pilihan Abadi
Di balik darah dan air mata, Perang Aceh memberikan sebuah pelajaran moral yang abadi: bangsa yang kehilangan harga diri akan hancur, tetapi bangsa yang rela berkorban akan tetap hidup dalam kehormatan.
Pilihan “syahid atau terhina” bukan sekadar retorika, melainkan kenyataan yang dijalani oleh ribuan rakyat Aceh. Mereka memilih syahid, dan dengan itu nama mereka harum sepanjang masa.
Pertanyaannya, bagaimana dengan kita hari ini?
Refleksi untuk Indonesia Modern
Kita hidup di era yang jauh berbeda. Tidak ada lagi senapan kolonial yang menodong dada kita. Tidak ada lagi kapal perang yang menembaki pantai. Namun, bentuk penjajahan baru tetap ada—penjajahan ekonomi, budaya, bahkan mentalitas.
Ketika kekayaan alam dieksploitasi tanpa memberikan manfaat adil bagi rakyat, bukankah itu bentuk penjajahan modern?
Ketika budaya instan dan hedonisme merusak generasi muda, bukankah itu upaya melemahkan bangsa?
Ketika korupsi, kolusi, dan nepotisme dibiarkan merajalela, bukankah itu pengkhianatan terhadap semangat syuhada?
Di sinilah relevansi warisan sejarah Aceh. Kita ditantang untuk memilih: menjaga kehormatan bangsa dengan melawan segala bentuk penjajahan modern, atau membiarkan diri kita jatuh dalam kehinaan.
Penutup: Serambi Merah, Cermin Kehidupan
De Atjeh Oorlog bukan sekadar catatan perang, melainkan sebuah drama panjang tentang keberanian, pengorbanan, dan martabat. Serambi Mekkah yang suci pernah menjadi Serambi Merah karena darah syuhada yang tumpah demi mempertahankan harga diri bangsa.
Hari ini, ketika kita mengenang mereka, pertanyaan yang sama kembali bergema:
Apakah kita memilih syahid dengan menjaga kehormatan, atau memilih hidup terhina dengan membiarkan bangsa ini dijajah kembali, meski dalam wajah yang berbeda?
Sejarah telah menjawabnya. Kini giliran kita.
( Idham rizal )



