Banyuwangi starbpknews.id.__Kyai H Nur Kamzy gelar selamatan atau tasyakuran di bulan Suro menjadi tradisi doa bersama dan kenduri bersama masyarakat sekitar serta undangan luar daerah. Ritual ini dimaknai sebagai ungkapan syukur dan permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi tersebut dilaksanakan di rumahnya pada malam 21 Suro (malam Senin 5 /7/2026 ) yang diisi dengan kegiatan berikut:Pembacaan Doa dilakukan bersama-sama untuk memohon berkah dan keselamatan serta keberkahan. Hidangan Tradisional: Menyajikan makanan khas seperti nasi tumpeng, ingkung (ayam utuh), dan jajan pasar.Refleksi Diri: Menjadi momen penting untuk tirakat (menahan hawa nafsu), eling lan waspada (ingat kepada Tuhan dan waspada dalam menjalani hidup) Minggu 05/07/2026 malam Senin.
Acara tasyakuran dan anjang silahturahmi tersebut dilaksanakan dirumah pribadi kyai H Nur Kamzy lebih akrab dengan sebutan Abah Kamzy beliau juga tokoh NU di wilayah desa Tempurejo – Bangorejo – Banyuwangi – Jatim.
Abah Kamzy juga sebagai tokoh spiritual terbukti mempunyai santri banyak di Jawa maupun diluar Jawa.
Kyai Abah Kamzy mengatakan, Tasyakuran doa bersama ini memandang nilai-nilai spiritual dan mistik dalam pergantian tahun baru Jawa sebagai salah satu acuan dalam mengarungi kehidupan.
Di samping itu, ritual slametan bulan Suro merupakan upaya untuk menghadirkan rasa selamat dan menghindari marabahaya. Slametan sebagai salah satu cara untuk sadaqah, diyakini sebagai memiliki kekuatan untuk menangkal bala. Itulah sebabnya, di kalangan masyarakat Jawa, slametan menjadi penting sebab dengan melakukan slametan berarti dia telah melakukan upacara untuk menolak bala,”tuturnya.
Ritual slametan bulan Suro dengan memakai benda-benda makanan (uba rampe) merupakan simbol penghayatan masyarakat Jawa terhadap Sang pencipta. Konsep ini dipercayai sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan berkah untuk awal tahun yang baru.
( Red Jwn BPK )




