Bupati Sumedang Harus Turun Tangan Menanggulangi Bencana Alam Longsor Di Wilayah Desa Margamekar.
Sumedang, Starbpknews .id.
Tiga bulan telah berlalu pasca bencana alam longsor tebing di blok Cijotang Sungapan yang menimbun saluran irigasi Sangiang Sri Dusun Nangorak Desa Margamekar Kecamatan Sumedang Selatan Kabupaten Sumedang, sehingga air dari Sungapan belum bisa mengalir seperti biasanya. Dikarenakan saluran tertutup tanah sepanjang 220 meter, berbagai upaya sudah dilaksanakan oleh warga masyarakat Dusun Nangorak dengan kerja bakti gotong royong menggunakan peralatan seadanya. Sebagaimana kegiatan kerja bakti hari Kamis, 14 Mei 2026 , mengisi hari libur dipimpin langsung oleh Ketua RT 03 RW 06 Dusun Cipicung agenda membuat saluran penampungan air untuk hari Sabtu 16 Mei 2026 yang akan menggunakan Genseit dari Kantor Damkar Sumedang.
Sesuai keterangan dari Ketua RT 03 RW 06 Dusun Cipicung ( Nono Hermansyah, S.Sos. ), kami terus berupaya dengan berbagai cara agar air saluran irigasi ini bisa mengalir lagi seperti biasanya. Dikarenakan yang akan kena dampak bila saluran irigasi belum juga normal, kisaran 100 ha sawah warga akan kekurangan air. Ini akan menjadikan beban bertambah ke depan, belum lagi 5 ( lima) musim ke belakang gagal panen diakibatkan serangan hama tikus.
Hari Sabtu, 16 Mei 2026 , kami sudah kordinasi dengan pihak Damkar Sumedang meminta bantuan meminjam genseit atau desel dan peralatan lengkap untuk penyemprotan tanah longsor tersebut. Alhamdulillah dari pihak Damkar Sumedang sudah siap membantu memberikan pinjaman serta tenaga personilnya.
Sedangkan menurut Ustadz Memed , menyampaikan mengenai longsor ini bukan hanya tanggung jawab warga Cipicung dan se wilayah Kepala Dusun Nangorak saja, karena ini masuk ke ranah musibah bencana alam. Jadi semua pihak baik dari Pemerintahan Desa Margamekar juga harus memikirkan mencarikan solusi dengan cepat mengatasi gundukan tanah longsoran tersebut.
Di lain pihak petugas keamanan Hansip Desa Margamekar ( Amar ) yang ikut kerja bakti dilokasi longsor, menyampaikan , ” bahwa bencana alam ini tidak bisa hanya dilihat , di tonton , atau dijadikan wacana pembicaraan semata. Akan tetapi harus dengan gerakan yang nyata, gerakan yang tampak ada wujud nyata bukan hanya dijadikan perbedaan paham atau pandangan. Berpikirlah secara jernih dan melihat kedepan akan dampak nya, apabila longsor ini dibiarkan seperti ini sawah akan kekeringan maka kerugian warga petani sawah akan kian bertambah.
Begitu pula pandangan dari tokoh warga RT 03 Cipicung ( Urin ), memberikan saran pendapatnya mengenai mengantisipasi menghilangkan gundukan tanah agar air cepat mengalir, kerja baktinya jangan hanya tiap sabtu dan minggu. Seharusnya tiap hari juga harus ada yang kerja bakti dengan sistem di jadwal bagianya. Semua warga harus ikut kerja bakti, bukan husus bagi warga yang punya sawah saja, yang tidak punya juga harus ikut kerja bakti.
Hasil dari perbincangan dengan warga masyarakat hususnya perwakilan dari warga RT 03 RW 06 Cipicung digaris bawahi bahwa kerja bakti saluran irigasi Sangiang Sri tersebut harus melibatkan semua unsur terkait, Pihak Pemerintahan Desa Margamekar harus mempunyai agenda kerja serta harus berani memerintahkan kepada warga masyarakat di luar kepala dusun yang ada di nangorak. Kesampingkan dulu masalah hal politis, hilangkan perkataan bahwa warga cipicung tidak melakukan hak memilih Kepala Desa sekarang. Akan tetapi harus mempunyai prinsip bahwa warga cipicung adalah bagian warga Desa Margamekar. Bantulah dengan anggaran Dana Desa pada Pos Penanggulangan Bencana, daripada dampak kekurangan air akan lebih meluas, lebih baik dikeluarkan anggaran bencana untuk pembiayaan pembelian pipa paralon atau lainya untuk air segera mengalir kembali seperti semula. Kata seorang warga pemerhati Pemerintahan Desa Margamekar Kecamatan Sumedang Selatan. ( ASHER Korwil Jawa Barat ).




