GIAT RUTIN SMKN 1 WONO ASRI DI HARI SANTRI 2025 :SEBAGAI MOMENTUM MENGAWAL INDONESIA MERDEKA, MENUJU PERADABAN DUNIA.

Madiun, 24 Oktober 2025 ; Starbpknews,id

Dalam Moment peringatan Hari Santri 2025 beberapa hari yang lalu,SMK Negeri 1 WONO ASRI tak pernah absen mengadakan giat rutin tahunan semisal ngaji bareng, istighosah dan pada peringatan kali ini Sekolah ini mengadakan jalan sehat.
Dra. Wiwik Wiyati, M.Pd.,menjelaskan bahwa Hari Santri 2025 datang Dengan Mengusung Tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia.”
Menurut keterangan Kemenag dan Surat Edaran Menag Nomor 04 Tahun 2025 Pelaksanaan Peringatan Hari Santri 2025,

 

tema Hari Santri 2025 memiliki makna mendalam dimana pada peringatan kali ini ,Tema ini diharapkan mampu menegaskan tugas santri tak hanya mengawal kemerdekaan tetapi juga membawa nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan di tataran yang luas.Sedangkan makna “Menuju Peradaban Dunia” adalah sebuah visi bahwa santri tak hanya berkutat pada isu domestik tetapi juga ikut membangun peradaban global. Hal itu diwujudkan dengan pemikiran, karya intelektual, hingga kontribusi santri di berbagai bidang, kemudian yang jadi pertanyaan apa korelasi nya terhadap siswa siswi disekolah mengenai peringatan ini?

Dalam kesempatan di tengah moment acara yang digelar oleh SMKN1 WONO ASRI ,Dra. Wiwik Wiyati, M.Pd., Menjelaskan sudut pandangnya mengenai hal tersebut . Beliau menyampaikan Bahwasanya Pendidikan karakter menjadi tujuan pendidikan di Indonesia sejak lama. Anak-anak Indonesia diharapkan memiliki kecakapan (keterampilan) dan berakhlak. Salah satu aspek yang mulai meluntur dari pendidikan di Indonesia ialah keteladanan. Seringkali keteladanan dari figur dihadirkan dari dunia yang jauh dan berjarak dari anak didik. Pengetahuan terhadap nilai-nilai utama dari figur datang kepada siswa melalui informasi dari media massa yang sarat dengan pencitraan atau disampaikan orang lain yang sangat mungkin disertai subjektivitas dan distorsi informasi.

Sebagainya kita tahu Bahwa Di lembaga pendidikan nonpesantren, keteladanan tidak hadir secara kukuh sebagaimana di pesantren.Misalnya keteladanan kepala sekolah atau guru berlangsung dalam waktu yang singkat. Interaksi pemimpin dan pengajar ‘hanya’ berlangsung di sekolah.

Sementara untuk menjadi tokoh teladan, kepala sekolah dan guru merupakan jabatan yang bisa dipindahtugaskan ke sekolah lain.
Di pesantren, figur kiai merupakan teladan utama bagi santri dan masyarakat sekitar.
Kehadiran kiai bukan hanya saat mengajar dan mengaji, tetapi hadir melalui perilaku keseharian.

Dra. Wiwik Wiyati, M.Pd., berharap anak didiknya di SMKN 1 WONO ASRI dapat menangka makna yg terkandung dalam momentum peringatan ini,sehingganya bisa dijadikan pilar berkehidupan yang sarat akan Moralitas dan Akhlak yang mulia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *