Tangis Nurbaya di Depan Kantor DPR: Jeritan Hati Rakyat Kecil yang Terabaikan

HALSEL Starbpknews.id 8/9 2025 – Aksi unjuk rasa di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berlangsung penuh emosi. Ratusan massa dari berbagai elemen masyarakat turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi terkait sejumlah kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada rakyat kecil. Namun, di antara teriakan tuntutan, sebuah momen menyentuh terjadi ketika seorang perempuan bernama Nurbaya menangis tersedu di hadapan gedung wakil rakyat.

Nurbaya, yang hadir bersama massa aksi, tak kuasa membendung air matanya ketika menceritakan derita yang ia alami akibat kebijakan yang dianggap merugikan masyarakat kecil. Dengan suara parau dan penuh emosi, ia berkata:
“Kami sudah terlalu lama menunggu keadilan. Kami datang bukan untuk membuat keributan, tapi untuk menuntut hak yang seharusnya kami terima. Tolong dengarkan jeritan kami.”

Tangis Nurbaya sontak mengundang simpati dari peserta aksi lainnya. Beberapa mencoba menenangkannya, sementara yang lain justru semakin bersemangat meneriakkan yel-yel agar DPR segera turun menemui rakyat. Spanduk, poster, dan pekikan tuntutan terus menggema, menandai besarnya kekecewaan masyarakat terhadap kinerja lembaga legislatif.

* Aksi ini digelar sebagai bentuk protes terhadap sejumlah persoalan, di antaranya:

_ Dugaan ketidakadilan dalam implementasi kebijakan Perwakilan daerah.

_ Keterlambatan dan ketidakjelasan penyaluran bantuan sosial.

_ Minimnya keberpihakan DPR terhadap aspirasi masyarakat lapisan bawah.

Koordinator lapangan aksi menegaskan bahwa kehadiran mereka di depan kantor DPR merupakan bentuk kekecewaan mendalam atas sikap wakil rakyat yang selama ini dianggap abai. “Kami datang dengan damai, tapi jangan salahkan jika suara rakyat terus mengeras. Tangisan ibu Nurbaya hari ini adalah simbol kegagalan DPR dalam menjalankan amanah,” ujarnya.

Hingga sore hari, massa masih bertahan di depan kantor DPR sambil menunggu itikad baik dari anggota dewan. Namun, belum ada satu pun perwakilan resmi DPR yang keluar menemui pengunjuk rasa.

Bagi banyak orang, tangis Nurbaya bukan sekadar luapan emosi pribadi, melainkan cerminan jeritan rakyat kecil yang kerap dipinggirkan. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa lembaga legislatif sejatinya ada untuk mendengar, memperjuangkan, dan melindungi hak masyarakat, bukan sebaliknya.

( Ris / Kis BPK )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *