Jombang,StarbpkNews .id.
Lebaran ketupat di Desa Balongsari, Megaluh, dirayakan di hari ketujuh setelah Idul Fitri. Ketupat dibawa ke masjid atau ke mushola terdekat untuk dimakan bersama sambil mendoakan ahli kuburnya masing masing, (7 April 2025)
Sejak hari Minggu pagi pak mardi 70 tahun, dan keluarganya sibuk membuat ketupat dan lepet. Kedua makanan itu merupakan makanan tradisional yang selalu dihidangkan saat lebaran ketupat, perayaannya sepekan setelah Idul Fitri. Sudah puluhan tahun, selalu membuat,” ujarnya.
Ketupat adalah makanan yang dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman dari bahan daun kelapa. Jika dibalut dengan daun pisang biasa dikenal dengan lontong.
Serupa dengan ketupat, lepet juga dibalut dengan daun kelapa muda, namun isinya berbeda, yakni ketan putih yang dicampur dengan kelapa parut dan garam. Umumnya ketupat disajikan dengan opor ayam atau kare ayam.
Tidak hanya dibuat untuk disajikan di rumah sebagai hidangan, saat lebaran ketupat, makanan ini akan di bawa ke masjid atau ke mushola terdekat kemudian dilakukan doa dan makan bersama. “Untuk mendoakan yang sudah meninggal,” ujar dia.

Alasan ia tidak pernah absen membuat ketupat, karena menurut yang ia dengar dari pemuka agama setempat, keluarga yang meninggal akan mencari-cari makanan, jika tidak mendapat kiriman ketupat.
Hari ini ia memasak 3,5 kg ketan untuk membuat lepet dan 5 kg beras untuk membuat ketupat. Sesuai tradisi, sebagian dari ketupat yang dibuat akan dibagikan ke sanak-saudara serta ke tetangga terdekat.
Menurut Ustadz H. Ali Subakir pada saat memimpin Do’a mengutarakan, Tiap tahun, lebaran ketupat di Balongsari, Megaluh dirayakan di hari ketujuh setelah Idul Fitri. Ketupat itu dibawa ke masjid atau ke mushola terdekat, setelah sholat subuh, sekitar pukul 05.30 WIB, dikarenakan setelah selesai melaksanakan kegiatan puasa sunah Syawal disebabkan dilaksanakan pada bulan Syawal.
“Tradisi ini sering kali dikaitkan dengan salah-satu Wali Songo, yakni: Sunan Kalijogo. Ia ditengarai yang memperkenalkan tradisi hari raya ketupat. Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi mengatakan, tradisi kupatan muncul pada era Wali Songo dengan memanfaatkan tradisi slametan yang sudah berkembang di kalangan masyarakat Nusantara”.
Tradisi tersebut kemudian dijadikan sarana untuk mengenalkan ajaran Islam mengenai cara bersyukur kepada Allah, bersedekah, dan bersilaturahmi. Ujarnya (*)Media
(Andi Iswahyudi StarbpkNews)




